Oktober 2022, APBN Defisit 169,5 Triliun

Fri, Nov 25, 2022 5:36 AM
By Mona - Bersamamedia
News Article

Pendapatan negara terus meningkat hingga bulan Oktober 2022, yang besarnya sudah mencapai Rp2.181 triliun, atau tumbuh 44,5 persen. Namun belanja negara lebih besar, mencapai Rp2.351 triliun atau tumbuh 14,2 persen, sehingga APBN bulan Oktober mengalami defisit.

“Pada bulan Oktober APBN mengalami defisit sebesar 169,5 triliun atau 0,91 dari Gross Domestic Product (GDP). Defisitnya masih lebih rendah dari target defisit APBN dalam Perpres Nomor 98/2022 sebesar 4,5 dari GDP,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam keterangan pers APBN Kita, Kamis (24/11/2022).

Sebelumnya, selama 9 bulan beruntun hingga September 2022, APBN mengalami surplus. Menurut Menkeu, defisit di bulan Oktober masih terjaga dan menunjukkan peran APBN sebagai shock absorber semakin optimal.

“Disiplin fiskal akan terus dijaga sebagai upaya mempertahankan kinerja dan kredibilitas APBN. APBN akan selalu hadir di masyarakat, untuk mengantisipasi dan memitigasi tekanan dan risiko di tahun depan,” ucap Menkeu.

Laporan realisasi APBN juga menunjukkan, terjadi peningkatan tajam di belanja nonkementerian/ lembaga di bulan Oktober 2022. Utamanya belanja untuk keperluan subsidi dan kompensasi energi.

“Realisasi kompensasi energi di bulan Oktober 2022 besarnya mencapai 268 triliun, dan realisasi subsidi energi mencapai 184,5 triliun. Besarnya realisasi subsidi energi dipengaruhi oleh meningkatnya volume penyaluran barang bersubsidi, serta kenaikan harga BBM dan LPG,” ujar Menkeu.

Sri Mulyani juga mengatakan, konflik geopolitik,  masih tingginya inflasi dan pengetatan moneter di sejumlah negara maju masih berlanjut. Ketiga faktor tersebut berpotensi menimbulkan tekanan ekonomi, yang dapat mempengaruhi kinerja APBN.

“Meskipun indikator ekonomi domestik masih terjaga dengan baik, kita tetap harus waspada. Terutama untuk mengantisipasi rambatan tekanan global,” kata Menkeu.

Hingga triwulan III-2022, ekonomi Indonesia masih tumbuh kuat 5,72 persen yang ditopang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Masyarakat kelas menengah atas, menurut Menkeu, sudah mulai melakukan konsumsi yang menunjukkan  kepercayaan mereka terhadap kondisi ekonomi domestik.

Comment

Leave a reply
Your email address will not be published.