Siswa SMA di Surabaya Ikut Ujian Penentu Kelulusan dengan Smartphone

0
50
Suasana USP-BKS di SMA Khadijah Surabaya. Foto : Bagus A. Wahid
00470.MTS_snapshot_00.01.998.jpg
Suasana USP-BKS di SMA Khadijah Surabaya. Foto : Bagus A. Wahid

Bersamamedia.com Siswa SMA di Surabaya menjalani Ujian Satuan Pendidikan Berbasis Komputer dan Smartphone (USP-BKS) pada Senin (2/3). Ujian ini merupakan ujian penentu kelulusan yang seluruh soalnya dibuat oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Jatim.

Terpantau di SMA Khadijah Surabaya, Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Wahid Wahyudi melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk melihat proses pelaksanaan USP-BKS yang tengah berlangsung.

Dalam sidak tersebut, Wahid menemukan fakta cukup menarik, dimana sebanyak 177 siswa yang mengikuti USP-BKS memilih menggunakan smartphone untuk mengerjakan soal ujian di hari pertama yakni Bahasa Indonesia. Mereka menganggap, menggunakan smartphone dalam USP-BKS lebih fleksibel dan memudahkan dalam pengerjaan.

“Ya, memang awalnya kita tawarkan apakah menggunakan smartphone atau laptop. Ternyata semua siswa lebih memilih smartphone karena lebih gampang dioperasikan,” ucap Wahid setelah sidak.

Meski ini kali pertama siswa menjalani ujian menggunakan smartphone, pihak sekolah memastikan tidak akan ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan. Sebab, siswa sudah terbiasa menggunakan smartphone masing-masing untuk ujian, termasuk saat ujian tengah semester. “Kami sudah terbiasa menggunakan smartphone sebelum USP-BKS, insya allah tidak ada kendala baik server maupun kendala teknis lain,” ungkap Abdul Ghoffar, Kepala Sekolah SMA Khadijah.

Menurutnya, siswa sendiri yang menentukan menggunakan smartphone. Bukan lantaran kecukupan laptop di sekolah yang kurang. USP-BKS merupakan nama baru dari Ujian Sekolah. USP-BKS menentukan kelulusan siswa dengan persentase sebanyak 40 persen, meliputi ujian praktik dan ujian tulis. Sedangkan 60 persen sisanya didapat dari nilai rapor siswa selama semester satu hingga enam.

Bobot soal USP-BKS di Jatim pun berbeda dibandingkan dengan imbauan dari Kemendikbud. Yakni 20 persen soal mudah, 50 persen soal medium, dan 30 persen soal High Order Thinking Skill (HOTS). “Ini dilakukan lantaran selama ini pembelajaran di Jatim lebih ketat sehingga dalam proses ujian standarnya harus lebih ditingkatkan.” pungkas Wahid.

Sumber : kumparan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here